Pada kenyataannya Allah Swt tidak pernah lupa terhadap hamba-hamba-Nya. Sebaliknya kita lah yang selalu melupakan-Nya. Dengan segudang aktivitas yang kita miliki. kita merasa “berhak” untuk melupakan Allah SWT.
Buktinya?
Coba tanyakan sesaat, berapa kali hari ini kita sholat di awal waktu, dimasjid, berjama’ah dan shaf pertama?
Tentu alhamdulillah jika jawabannya menggembirakan dengan jawaban 5 dari 5. Lalu bagaimana jika jawabannya kurang dari itu, atau bahkan 0 dari 5? Bukankah itu pertanda bahwa Allah sudah tidak penting lagi untuk kita? Bahwa “ada” aktivitas lain yang “lebih penting” dari memenuhi panggilan Allah tersebut? Ya betul, toh waktunya masih panjang, dan kita masih bisa “bernegosiasi” dengan Allah. Sementara urusan dunia kita ini agak sulit dinegosiasi, karena ia menyangkut “masa depan” kita. Astaghfirullah…
Sekarang mari kita interospeksi, kenapa kita sulit sholat tepat waktu. Sibuk dengan pekerjaan? Ada rapat? Sedang kuliah? Sedang mengisi kuliah? Sedang dijalan? Tidak ada musholla atau masjid yang dekat dengan tempat kerja kita? Azan tidak terdengar? Sedang membahas masalah penting dan takut “semangatnya” hilang kalau dipending? Sedang dapat ide dan idenya bisa hilang kalau di stop dulu? Sedang kedatangan tamu? Sedang meeting dengan klien? Sedang menjalankan mesin produksi? Lupa? Ketiduran? Silahkan dilanjutkan excuse-excuse ini jika memang diperlukan.
Namun sekarang mulailah menjawab dengan jujur. Benarkah semua itu alasan utama kita meninggalkan sholat tepat waktu?
Sebagian kita adalah ahli manajemen, orang yang menghabiskan waktunya kuliah dalam hal manajemen, atau setidaknya pernah mendapat pelatihan manajemen. Sebegitu sulitnya kah kita me-re-arrange jadwal-jadwal kita sehingga memungkinkan kita menempatkan jadwal sholat pada waktu yang “tidak dapat diganggu gugat”.
Sebagian kita adalah negosiator ulung, kita dapat menegosiasikan beberapa keputusan penting dan krusial agar bisa berjalan sesuai dengan kehendak kita. Sebegitu sulitnya kah kita untuk menegosiasikan jadwal kehidupan kita yang beririsan dengan orang lain agar waktu sholat kita tidak “terganggu”?
Sebagian kita adalah konseptor ulung yang bisa melakukan rekayasa sosial, sehingga kita bisa merubah masyarakat, kondisi, atau tempat dimana kita bekerja menjadi seperti yang kita arahkan. Sebegitu sulitnya – kah membuat konsep agar waktu sholat jadi kepentingan bersama yang harus selalu di utamakan.
Bahkan sebagian kita adalah “big boss”, owner perusahaan yang ditangan kitalah keputusan tertinggi. Sebegitu sulitnyakah, menghentikan aktivitas pekerjaan dengan menggunakan “power” kita agar kita bisa sholat tepat waktu.
Memang hal paling nyata yang tidak bisa membuat kita sholat tepat waktu adalah KEMAUAN! ya, cuma satu kata itu!
Sadarkah kita bahwa rezeki kita harus di ACC Allah dulu agar sampai ke tangan kita? Sadarkah kita bahwa kontrak kehidupan kita bisa diperpanjang atau diperpendek dengan izin Allah swt? jika kita caleg atau semacamnya, sadarkah kita bahwa kemenangan itu bukan ditangan kita, tim sukses kita atau bahkan konstituen kita? Semua di tangan Allah swt.
Sadarkah kita, bahwa segala kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan, kerumitan yang membelit dan tidak kunjung usai tidak semata-mata bisa diselesaikan dengan “solusi teknis”. Bahwa ada “Sang Pemilik Solusi” yang selama ini kita remehkan. Dia yang menguasai seluruh ihwal kehidupan dunia dari A-Z. Semua jalan buntu yang kita temui, seperti tak ada artinya bagi-Nya.
Selama ini kkita terlalu “sombong” dengan “kemampuan teknis” kita, seperti kemampuan menganalisis, merencanakan, bernegosiasi, manajemen, dll, dan serta merta melupakan bahwa sepintar2nya kita, tetap ia tak ada seujung kuku dari Ilmu Allah swt. Kita merasa dengan semua pengetahuan, relasi dan banyaknya uang merupakan jaminan kelangsungan kesuksesan kita.
Buat para bisnisman misalnya, siapakah yang menggerakkan seorang customer untuk menghubungi anda? apakah website yang anda buat? brosur yang anda sebarkan? rekomendasi dari seorang klien? Iklan yang anda pasang? dll
SALAH BESAR!!! jika jawabannya “hanya itu”. Semua itu hanya ikhtiar kecil kita. Jawaban sebenarnya ada di langit.
Allah swt-lah yang menggerakkan hati mereka!
Mau bukti?
Pernahkah kita mau membeli makan, lalu entah mengapa kita masuk ke sebuah warung yang tadinya tidak kita kehendaki, padahal sepanjang jalan itu banyak warung makan mungkin yang lebih sesuai selera kita? Kita mungkin bisa saja terjebak di warung tersebut dan terlanjur memesan. Tapi itulah konsep Rizki. Allah sudah menentukan kita makan disana dan memberi rezeki kepada si pemilik warung.
Masih banyak sekali bukti bahwa kita manusia, tak lebih hanya melakukan ikhtiar kecil. Seberat-beratnya effort yang kita lakukan, jika tidak di “ACC” oleh sang Pemilik Kehidupan, tak akan pernah terjadi!
Maka dari itu, apakh masih kita meremehkan Allah SWT jika Dia memanggil kita?
Saudaraku,
mulailah mendengarkan dan menyambut panggilan-Nya.
Jangan pernah menganggap sholat sebagai beban, waktu yang terbuang, dll
Ia adalah investasi, agar seluruh waktu kita menjadi efisien. Apakah beda antara orang sukses dan yang tidak? bedanya cuma 1, orang sukses 24 jam-nya adalah 24 jam yang efisien dan produktif. Mungkin satuan waktunya sama, tapi isinya sangat berbeda.
Sholat adalah pelita, tatkala semua gelap. Berapa banyak dari anda yang bisa “meramal masa depan”. Anda tak pernah tahu bahkan 5 menit ke depan apa yang akan terjadi. CUMA ALLAH SWT saja yang tahu. Maka masihkah kita sholat dengan waktu2 sisa kita?
Mulailah sholat tepat waktu, sebab ia adalah kehidupan. Ia adalah kekuatan. Ia adalah energi positif yang tidak akan pernah terkalahkan.
Buktikan sendiri, dan saya jamin Anda akan merasakannya.
Sekarang, bukan besok.
Subhanallah, terima kasih sudah diingatkan. Semoga dimudahkan dan dilancarkan
Semoga kita menjadi lebih baik…