Sebuah hal yang terlihat mengeluh. atau sekedar curahan hati yang tak tersalurkan oleh pipa hati yang bisa memberikan madu kehidupan…
sudah lebih dari 5 tahun perjuanganku membangun usahaku sendiri. Sebuah usaha yang aku nisbatkan kepada-Nya. Sebagai bagian dari mewujudkan perjuangan di jalan-Nya.
Hari demi hari kulalui dalam suka dan duka. Dari mimpi yang tak pernah kumimpikan sebelumnya. Dari hati yang tak pernah kucondongkan untuknya.Namun dunia tu adalah sebuah takdir untukku. Dimana kutapakkan kakiku diatasnya. Sebuah dunia yang “katanya” penuh ketidakpastian. Penuh lika liku. Sebuah dunia yang hanya diperuntukkan untuk-untuk orang kuat. Sebuah dunia yang tidak pernah memiliki “aturan baku”… Hanya seperangkat norma yang berlaku umum… dan karenanya ia sangat umum sekali.
namun setelah sekian waktu berselang, sebuah mimpi sederhanaku (untuk saat ini), tak juga tercapai. Lalu apakah langkah ini harus kuhentikan sampai disini? menyerah pada sebuah hasil yang mengakhiri semua mimpi dan jalan itu.
Tentu aku sulit memutuskannya. Sebab jikalau aku berhenti dari semua ini, lalu kemanakah kakiku harus kulangkahkan? Sebab dunia ini sudah begitu akrab denganku. Dan disisi lain, secara realita, seperti tak ada lagi yang bisa kuharapkan. Karena sepertinya semua sudah jalan ditempat.
Semua janji dan rumusan teori yang mengatakan bahwa setelah 5 tahun semuanya akan melesat cepat tidak terjadi padaku. kenaikan itu hanya begrak lambat. Sementara yang harus dikeluarkan tetap dan terus bertambah.
Sampai disinilah persimpangan itu tiba. Semua menjadi seperti sebuah mata air yang bingung haru memilih jalan keluar yang mana. sebuah keniscayaan yang membingungkan. Jikalaupun aku harus bersabar, maka sampai dibatas manakah kesabaran itu? apakah ini sudah jalan yang benar atau aku harus lebih “realistis” melihat masa.. sebuah kata yang dulu “begitu aku benci”..
entahlah, semua masih dalam awan kebingungan.. saat dunia ini seperti melihatku dengan mata yang ditutup sebelahnya. Bahkan 3/4-nya..
Semoga Allah swt, mengingatku, sebab tanpa pertolongan-Nya… musnahlah diriku selamanya…
Semarang, 15 September 2010
Hendro Tri Rachmadi