January 11, 2010
Jangan Kebiasaan “Ngasal” bikin-bikin desain ah…!!!
Posted by hendrotrirachmadi under BisnisLeave a Comment
October 29, 2009
Sore itu, saya “terlambat” sholat berjama’ah di Masjid… Busway yang saya naiki, entah kenapa terasa lambat (sebenernya karena kalkulasi waktu saya kurang bagus sih). Akhirnya saya baru sampai di terminal pulo gadung pas adzan maghrib. Dengan tergesa-gesa saya segera menuju masjid yang ada di dekat pasar pulo gadung. Namun sampai sana, sholat berjama’ah sudah selesai…
Akhirnya saya memutuskan menghabiskan waktu dari maghrib sampai isya di masjid tersebut. Sambil diisi sesekali dengan membaca Al Qur’an dan setelah selesai sholat isya, saya pun bergegas ingin pulang ke Bekasi. Tetapi saya “teringat”, bahwa pekan kemarin, saya merasa “shodaqoh” saya sangat kurang sekali. Berhubung beberapa “pos” shodaqoh yang juga berkurang.
Akhirnya saya berniat bershodaqoh di masjid itu. Walau hanya 5ribu saja. Dikantong saya ada uang 13rb. Saya pilih 5ribuan yang “agak bagusan”… dan saya masukkan ke kotak amal masjid itu…
Lalu saya berjalan keluar masjid menuju terminal pulo gadung. Di tengah perjalanan, ada yang menanyakan saya „mau ke purwokerto? Sinar Jaya“ dll… Saya pikir biasa saja, namanya juga terminal. Walaupun kalau di telisik, biasanya para calo menawarkan bus luar kota bukan di sisi terminal yang ini. Saya menggeleng dan terus jalan sambil SMS-an.
Setelah SMS-an selesai, saya tarus HP di kantung depan (ada GSM dan CDMA di kantong). Lalu dimulailah adegan tersebut.. Ketika saya ada dijalanan khusus pejalan kaki, di depan tukang-tukang buah… Tiba-tiba ada sekitar 3-4 orang “menabrakkan” diri ke saya seperti posisi mengepung…
Awalnya saya cuek saja, tapi dalam beberapa detik, saya seperti mendapat hidayah Allah SWT, dan langsung tersadarkan bahwa “mereka sedang melakukan sesuatu” terhadap saya… Benar saja… Saya merasa ada 3 tangan yang “bergerak cepat”. Satu masuk ke kantong depan, satu berusaha membuka tas saya dari belakang, satu lagi masuk ke kantong celana bagian belakang.
Kejadiannya begitu cepat, mungkin hanya beberapa detik saja. Tapi Alhamdulillah sekali lagi atas hidayah Allah SWT. „Aksi“ mereka gagal total. Sebab saya menyadari yang mereka lakukan. Dan fokus saya langsung tertuju pada „pencopet gagal“ yang ada persis di depan saya. Mengetahui bahwa aksinya gagal dan tahu bahwa dia “sudah terdefinisi” sebagai copet, orang tersebut langsu berusaha menjauh dengan cepat.
Saya coba mengejar orang tersebut. Dia coba menghindar di tengah hiruk pikuknya angkot yang tak beraturan. Beberapa kali saya teriak ke dia “Elo mau copet gw ya!???” dengan nada keras. Dia terus berusaha lari… Sampai suatu ketika dia „hampir“ tersudut… dia mencoba mengancam balik… Sebenernya perasaan saya campur aduk waktu itu antara kesal, takut, gemes, dll (takut karena khawatir kalau temen2nya ikut „ngeroyok“ saya, kan bisa aja, mereka yang neriakin saya copet, soalnya mereka kan bergerombol). Namun berhubung tampang saya „nggak culun-culun banget“, saya balas gertak si copet dengan terus mendekati dia.
Akhirnya di kabur juga… Beberapa orang berusaha „menenangkan“ saya. Tapi orang-orang yang „menenangkan“ saya tersebut juga „hilang“ dalam beberapa detik… Akhirnya ada seorang pengendara motor yang bilang ke saya… „Udah Pak nggak usah di kejar, itu tadi temennya semua…“
Yang saya „agak kesel“ adalah, bahwa jelas sekali orang itu mau mencopet, dan saya sudah kejar dan teriakkan ke semua orang di situ beberapa kali bahwa dia itu copet. Tapi anehnya oarang-orang yang lalu lalang disitu seakan diam saja, acuh tak acuh dan tidak perduli. Wallahu’alam, apa karena teriakan saya kurang keras, atau mereka takut juga, soalnya bisa jadi mereka itu kawanan yang banyak… Yang jelas saya seperti sendirian di kerumunan orang banyak itu…
Tapi Alhamdulillah. Gerombolan copet itu, dengan izin Allah SWT, gagal mencopet saya. Walau kalau mereka tahu nilai HP yang jadi incaran mereka, mungkin mereka yang bakal kesel karena nilainya yang jauh dari ekspektasi mereka (saya juga bakal kesel sih, soalnya di HP itu ada database klien2 saya)…
Setelah saya merenung dalam-dalam. Saya bisa „selamat“ dari aksi itu mungkin akibat „shodaqoh“ 5rb yang saya masukkan ke kotak amal tadi… Itu 5 rb, mungkin kalau 10rb atau lebih bisa jadi bahkan saya tidak harus mengalami kejadian tadi (manusia memang sering menyesal, bukan saja karena perbuatan kurang baiknya. Tapi juga karena „kurang“ perbuatan baiknya)…
Itu pun, „firasat“ untuk bershodaqoh saat itu, bisa jadi hidayah dari Allah SWT. Yang andai „tidak saya eksekusi“, saya akan jadi „korban“ copet2 tadi. Bisa jadi, bukan Cuma HP, tapi dompet, modem IM2, dll
Memang benar sekali bahwa shodaqoh bukanlah “pengeluaran”, ia adalah “investasi”. Sebab bisa jadi jika kita tidak rajin-rajin infaq/shodaqoh justru „pengeluaran“ kita akan semakin banyak dan beberapa di antaranya adalah „stupidity cost“. Biaya-biaya yang seharusnya bisa „kita hindari“, andai Allah SWT membimbing kita secara langsung dengan keberkahan dan kebaikan-Nya… Makanya, setiap ada „hidayah Allah swt“ langsung untuk kita, segeralah mengikutinya dan wujudkan dalam amal nyata… Sebab insya Allah itulah jalan terbaik dalam kehidupan kita…
Hendro Tri Rachmadi
October 29, 2009
10% SAHAM SIMPLE STUDIO SEHARGA 100 JUTA!
Posted by hendrotrirachmadi under Ide Kreatif[2] Comments
Dalam pengembangannya, SIMPLE STUDIO, kini membuka kesempatan kepada khalayak umum untuk menjadi pemegang saham dalam Simple Studio Indonesia.
Saya menawarakan 10% kepemilikan saham Simple Studio seharga Rp. 100juta…
Simple Studio berdiri sejak 6 September 2005, dan sudah melayani puluhan klien (hampir 100 klien) dengan ribuan hasil desain sejak saat itu. Saat ini Simple Studio mengalami perkembangan yang sangat pesat dan akan mengembangkan lebih besar lagi usahanya. Portofolio usaha kami dapat dilihat di www.simplestudioindonesia.com. Dan saya sangat optimistis akhir tahun ini adalah masa tinggal landas bagi Simple Studio untuk menjadi perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis yang diakui di level nasional.
Maka dari itu, saya mengajak kepada khalayak yang ingin bergabung dengan kesuksesan ini di masa depan untuk segera menanamkan investasinya di perusahaan kami. Dan saya berani menjanjikan BEP modal anda insya Allah (jika Allah mengizinkan dan menghendaki) dalam 3-5 tahun. Daripada menginvestasikan dana anda di usaha yang belum jelas prospeknya, lebih baik anda investasikan usaha anda disini.
Gambaran pasarnya adalah, selama masih ada perusahaan, maka selama itu pula usaha desain grafis ini akan terus berkembang. Sebab semua usaha membutuhkan promosi, dan promosi yang baik tidak bisa ditangani “asal-asalan”. Oleh karena itu ranah bisnis ini insya Allah akan selalu menjadi ranah bisnis yang hijau “royo2″….
Ke depannya, insya Allah (jika Allah mengizinkan dan menghendaki tentunya), Simple Studio akan mulai mengarahkan “sasarannya” ke pasar “korporasi”, dengan tidak meninggalkan pasar yang sebelumnya digarap, yaitu perorangan dan UKM… Diharapkan dengan menggarap pasar yang lebih besar ini, omset pada tahun-tahun mendatang akan mengalami peningkatan yang signifikan…
Pada kesempatan kali ini, saya mencari teman-teman yang (terutama) “se-visi” baik dalam hal desain grafis maupun dalam pengembangan usaha secara keseluruhan… Saya termasuk orang yang yakin (dan tetap berikhtiar untuk menjaga keyakinan), bahwa membangun usaha dengan “bersih” tetap bisa membuat usaha kita maju dan besar. Hal ini sangat berbeda dengan konklusi yang banyak beredar selama ini bahwa, kalau mau jadi pengusaha harus bisa “tipu-menipu”, main belakang, sikut sana-sikut sini, abu2, dll.
Wallahu ‘Alam apakah prinsip saya ini akan berhasil. Karena saya “belum menemui” satu pun (semoga aja memang belum sempet ketemu), dengan pengusaha yang memang benar2 “bersih”… Bersih disini bukan berarti kita, manusia tanpa cela… Tapi lebih ke arah komitmen kita tentang berbisnis dengan cara-cara yang syar’i. Memang dilapangan, ada saja satu atau dua ganjalan. Tapi semoga itu tidak membuat kita mundur untuk membangun usaha dengan syar’i…
Saya masih memiliki keyakinan bahwa usaha yang dibesarkan dengan cara-cara yang syar’i akan memiliki kesempatan yang sama dengan usaha yang dibangun dengan “cara-cara yang tidak syar’i”. Walaupun bisa jadi, usaha-usaha yang dibangun dengan cara yang tidak syar’i, “terlihat” bisa berkembang dengan “lebih cepat”. Tapi saya yakin bahwa usaha yang dibangun dengan prinsip2 syar’iyyah, maka pelan tapi pasti dia akan besar. Dan “kebesarannya” lebih kokoh lagi. Karena dia tidak hanya memenuhi unsur2 alami perkembangan usaha, tetapi juga “dibantu” oleh keberkahan Allah swt. Artinya, insya Allah, Allah swt akan turun tangan langsung membantu agar usaha ini terus berkembang dan terjaga keamanannya. Pondasi-pondasinya jauh lebih kokoh dan tidak mudah rapuh seperti usaha2 konvensional.
Tetapi “resiko” terbesarnya adalah, usaha seperti ini (yang dibangun dengan dengan prinsip syar’i), bisa jadi berkembang “lebih lambat” dari usaha-usaha konvensional. Karena harus menahan diri dari cara-cara konvensional yang sudah “membudaya”. Tapi premis ini pun belum terbukti benar 100%. Walaupun sudah banyak orang yang “menakut2i” saya bahwa, usaha tidak akan besar kalau “nggak main gitu2an”…
Tapi sekali lagi saya yakin, bahwa inilah jalan yang terbaik. Apalagi saya sudah berkomitmen dengan karakter inti untuk semua bisnis yang ingin maju, seperti profesional, customer satisfaction oriented, disiplin, kerja keras, menjaga relasi, menjaga kualitas produk, dll. Bentuk-bentuk syariah yang sedang terus di jaga misalnya: tidak meminta pinjaman dari Bank/lembaga keuangaan konvensional (minimalisasi masalah riba), menjaga waktu2 sholat, menghindari ikhtilat di tempat kerja (minimalisasi karyawan perempuan, karyawan perempuan mungkin baru ada setelah Simple Studio memiliki divisi khusus perempuan), menyegerakan pembayaran ke mitra-mitra kerja jika pekerjaan mereka sudah selesai, tidak “menahan” gaji karyawan seberapa pun sulitnya kondisi perusahaan, tidak mengikuti “tender2 abu2″ yang sudah jelas pasti ada unsur KKN di dalamnya, menghindari semaksimal mungkin “unsur bohong” dari desain yang dihasilkan, dll….
Semoga Allah swt meridhai ikhtiar ini… Amiiin…
Untuk detailnya, silahkan hubungi saya di : 021-7097-2283 atau 0815-955-4548 atau via email : simplestudioindonesia@yahoo.com.
Hendro Tri Rachmadi
www.simplestudioindonesia.com
July 28, 2009
Judul yang sangat fantastis bukan? (mungkin sekaligus menyedihkan juga)…
Judul itu ada di sebuah milis yang saya “sayangi”, intinya curhatan seseorang karena mungkin dia menganggap terlalu sering dikirimi email penawaran dari orang yang nggak jelas. Tapi yang sangat disayangkan beliau langsung “menembak” institusi bisnis saya selaku tersangka utama dengan menyebutnya jelas-jelas “simple studio”. Milis yang saya kagumi itu seingat saya beranggotakan 13rb member… Hanya dalam satu hari reputasi di jatuhkan. Saya di anggap spammers. Dan yang lebih parah lagi, orang-orang seperti saya disamakan dengan perampok, pezina, pembunuh, koruptor, penipu, dll. Bukankah mereka semua orang “tidak bermoral?”
Yang sangat disayangkan, mengapa orang tersebut tidak langsung saja menyatakan ketidaksetujuannya dengan me-reply balik? Kalau memang jawaban kami masih dianggap kurang, bisa kan dengan menegaskan bahwa dia tidak suka dikirimi email2 seperti itu? Hari ini saya juga menerima reply dari 2 orang yang keberatan dikirimi email2 seperti itu. Tapi nggak sampai gitu2 banget deh. Dan tentu dengan senang hati dan penuh sopan santun kami akan menanggapi mereka dan menghapus mereka dari data prospek kami.
Tapi menyamakan “e-marketing” dengan “tidak bermoral” sepertinya sudah agak keterlaluan. Bukankah ini seperti seseorang yang melemparkan brosur ke rumah2 kita. Bukankah itu terjadi hampir setiap minggu atau bahkan setiap hari? Apakah kita perampok? Penipu? dll. Mungkin kita mengganggu, tapi serendah itukah orang2 yang melakukan aktivitas e-marketing?
Hari ini mungkin satu di antara hari kesedihan, dimana omset usaha saya sedang turun, dan ditambah di cap sebagai orang tidak bermoral. Lengkap sudah. Semoga “sang pencetus” istilah tersebut suatu saat disadarkan oleh Allah (entah dengan cara apa), bahwa apa yang dilakukannya sudah keterlaluan dan menyakiti hati orang lain.
Tidak ada yang bisa saya lakukan selain meminta maaf kepadanya, dan berusaha memaafkannya walau dia belum pernah melakukan hal tersebut serta menganggap semua ini hanya satu langkah menuju kesuksesan. Saya yakin, kegagalan2, cobaan2, rasa sakit-rasa sakit yang saya alami makin mendekatkan saya kepada kesuksesan.
Allah Maha Adil, tidak mungkin membiarkan hamba-Nya selalu di bawah. Setelah turun insya Allah akan ada naik. Setelah sedih insya Allah akan ada bahagia. Yang saya perlu lakukan hanya terus berjalan, tak berhenti menyerah di hadapan pukulan2 ini.
Ini juga jalan dari Allah untuk membuat mental saya semakin tegar, kuat menahan cobaan, betapa pun besarnya. Setiap orang berbeda penilaian dengan kita, ada yang suka, ada yang tidak. Ada yang setuju, ada yang tidak. Dunia tidak satu warna, penuh warna warni, tinggal bagaimana kita hidup dan beradptasi di dalamnya.
Allahu Akbar!
Dunia akan berubah, dan manis itu akan datang. Insya Allah!
Mangga Dua Square, Jakarta, 28 Juli 2009
Hendro Tri Rachmadi
Dalam keadaan bangkit dari kesedihan dan kembali melangkah…
July 27, 2009
Ketika saya hendak menikah. Saya membuat beberapa kriteria untuk calon istri yang akan saya cari. Satu di antaranya adalah, dia bukan karyawan! Dulu kriteria ini saya buat karena saya berpikir bahwa tugas istri adalah di rumah mendidik anak-anak, membesarkan mereka, dan menjadikan mereka anak-anak yang “hebat” dengan banyak kategori. Ada banyak hal yang memang secara “fitrah” hanya perempuan yang bisa. Jika ia seorang karyawan, maka akan “sedikit” sulit baginya menunaikan tugas tersebut. Sebab ia harus pergi pagi dan pulang sore (bahkan malam dengan kondisi Jakarta yang seperti ini).
Sebuah keinginan yang mulia menurut saya. Sementara tugas cari nafkah, all out ada di pundak laki-laki. Saya yang harus berjibaku dengan panas dan teriknya matahari, hujan lebat, debu, ruwetnya lalu lintas, dll. Itu tugas laki-laki! Harus siap mengorbankan segala yang dimiliki agar bisa menunaikan tanggung jawab tersebut dengan baik. Agar semua peran terlakoni dengan baik.
Di satu sisi, sejak dulu saya sudah punya komitmen, bahwa saya bertekad akan tetap jadi enterpreuner! Siapa pun tidak bisa menghalangi. Keinginan saya untuk berwirasusaha tidak bisa di tawar-tawar lagi! Dan memang saya sudah menjadi enterpreuner sekitar 1 tahun sebelum saya menikah. Dengan segala pasang surutnya.
Ternyata disinilah kekuatan hikmah yang Allah swt berikan. Apa yang baik menurut saya belum tentu baik untuk saya. Sebab Allah swt saja yang mengetahui apa-apa yang lebih baik untuk kita. Allah swt mengabulkan keinginan saya untuk tetap jadi enterpreuner tetapi tidak mengabulkan keinginan saya untuk mendapat istri “non karyawan”. Bahkan lebih parah, istri saya seorang PNS dengan ikatan dinas 15 tahun! Yang untuk „menebusnya“ harus mengeluarkan dana 50 juta.
Namun sesuai surat Al Baqarah 216 :
“….Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
Dalam bahasa yang “lebih sederhana”, Allah SWT seperti ingin mengatakan… Kamu nggak tahu apa-apa tentang dunia enterpreuner! Ada banyak hal yang tak seindah kamu bayangkan! Ada banyak hal-hal realistis yang tidak seperti mimpi idealisme kita! Ada banyak bekal yang harus disiapkan agar kamu tetap kuat berada di jalan ini! Berbekal keyakinan saja tidak cukup.
Atau dalam bahasa yang lebih „preman“, jangan sotoy deh, pengen jadi enterpreuner, tapi „nggak punya apa-apa“. Kamu belum punya banyak persiapan untuk itu…
Nah, memang sepertinya Allah SWT sedang memberi „yang terbaik“ untuk saya… Allah sangat memahami ada banyak kelemahan saya yang membuat saya „belum layak“ jika beristri seorang perempuan yang „tidak bergaji“… Allah SWT berusaha menjaga saya untuk tetap pada tekad saya menjadi enterpreuner, pengusaha sukses, dll dengan „menganugerahi istri“ yang „tidak sesuai kriteria awal“ saya… Sesuatu yang awalnya tidak saya inginkan, tetapi ternyata saya butuhkan! Allah Maha Tahu semua urusan hamba-hamba-NYa.
Dan hari ini adalah hari-hari kesyukuran saya atas “pertolongan Allah tsb”. Hari-hari ini sudah hampir 4 tahun sejak saya memulai usaha ini. Dan sudah lebih dari 5 bulan sejak saya mulai mempunyai karyawan (dan tentunya harus menggaji mereka). Dan hari-hari ini juga omset saya sedang turun drastis, segala cara sudah dilakukan, berbagai inovasi di temukan, dan berbagai ikhtiar di tempuh. Namun tak juga mengangkat omset. Mungkin inilah hikmahnya. Kita manusia hanya bisa berikhtiar, berdo’a dan tawakkal. Allah juga yang menetukan hasilnya.
Selama masa-masa sulit ini. Nikmat memiliki istri, seperti istri saya mulai terasa. Pendapatan saya yang sedang turun jauh banyak ditutup pendapatan istri. Apalagi memang sangat terasa kehidupan PNS itu seperti sudah “dijamin”… Saya mencoba “tidak menikmati” hal tersebut dengan tetap ikhtiar… dan ikhtiar… Tidak menyerah sampai disini, suatu saat matahari kan bersinar kembali… Suatu saat badai kan berlalu, hujan kan berhenti, kita hanya harus terus berjalan dan jangan pernah berhenti, betapapun lambatnya langkah yang kita ayunkan.
Tapi tentu saya tidak boleh memungkiri nikmat Allah tersebut, istri saya! Yang menjadi “shock breaker” saat saya menerima goncangan kuat. Yang menjadi penyokong saat saya jatuh, tidak hanya dengan dukungan-dukungan morilnya, tapi juga dengan dekungan materialnya. Sebuah jasa yang insya Allah tidak akan saya lupakan insya Allah jika Allah menganugerahkan kesuksekan kelak. Dan istri saya memang sepertinya melakukan itu semua tanpa pamrih… Sebuah nikmat yang dulu sempat saya sangsikan. Seorang istri yang tidak hanya cerdas, tapi juga shalihah dan baik dalam urusan rumah tangga. Saya menyebutnya “Bidadari Satu Paket”. Anugerah yang Allah berikan kepada saya agar saya bisa mencapai cita-cita saya kelak.
Ada beberapa hikmah besar untuk hal ini :
- Bahwa hanya Allah saja yang mengetahui yang terbaik untuk kita. Kita hanya „mengira-ngira“ yang terbaik untuk kita, sebatas yang kita tahu dan pahami. Jangan pernah berburuk sangka dengan apa pun keputusan Allah pada diri kita. Insya Allah itulah yang terbaik untuk kita.
- Dunia enterpreuner dalam kenyataannya sangat keras. Penuh dengan cobaan yang sangat berat. Ia seperti batu penguji untuk siapa saya yang mau menempuh jalan ini. Butuh lebih dari sekedar semangat untuk melewatinya. Beberapa persiapan teknis dan fisik juga dibutuhkan sehingga tidak membuat kita „mundur“ manakala menghadapi „cobaan-cobaan kemauan dan keyakinan“. Oleh karena itu, jumlah enterpreuner selalu lebih sedikir dari karyawan. Karena jalan enterpreuner pada realitanya tidak pernah enak. Tapi siapa yang bisa bertahan dengan rasa sakitnya, pengorbanan-pengorbanannya, dia insya Allah bisa melewatinya dan akhirnya bisa merasakan manisnya kesuksesan.
Walaupun kini istri saya masih berprofesi sebagai PNS, dan bisnis yang sedang saya bangun „masih kecil“. Tapi saya yakin bahwa suatu saat Allah akan membalik kondisi ini. Suatu saat kami akan punya pendapatan yang „cukup“ sehingga istri saya “tak harus bekerja lagi” (dan insya Allah semua yang membaca tulisan ini akan menjadi saksinya). Bahwa kondisi yang saya alami saat ini adalah bentuk pertolongan Allah terhadap tekad dan bisnis saya yang masih „butuh perlindungan“ secara fisik. Sama seperti tanaman yang baru ditanam dan masih kecil. Untuk melindunginya supaya tidak di patuk ayam, harus dibuat pagar kecil dulu. Nanti kalau sudah besar, harimau pun insya Allah tak bisa menumbangkannya. Dan „perlindungan kecil“ ini Allah berikan dalam bentuk istri saya yang masih bekerja ini.
Mungkin juga bentuk perlindungan teknis ini akan „berbeda-beda“ untuk tiap orang. „Kebetulan“ untuk saya seperti ini bentuknya. Untuk anda yang bertekad „setia“ di jalan ini bisa jadi bentuknya, kakak, adik, tetangga, paman, bibi, teman, orang tua, simpanan, deposito, relasi bisnis yang luas, aset yang dimiliki, sampai dengan „hanya“ sekedar keyakinan.
Namun semua berujung pada tekad dan keyakinan kita untuk setia di jalan enterpreuner ini. Dan setiap keyakinan pasti akan ada ujian. Jadi mari kita bersiap menghadapinya. Dan mari bersama saling membantu melewatinya….
Bekasi, 27 Juli 2009
Hendro Tri Rachmadi
May 7, 2009
Tujuan itu terasa sangat jauhnya. Tak terasa, sudah sangat lebtih kita berjalan. Tenaga kita seakan sudah terkuras habis. Remuk-remuk rasanya badan ini. Namun ia tak kunjung sampai.
Memang bukan tugas kita, manusia, untuk menentukan hasil. Tugas kita hanya tiga : ikhtiar, berdo’a dan tawakkal kepada Allah SWT atas setiap hasilnya. Oleh karena itu tujuan hanyalah guidence bagi kita untuk tahu kemana kita melangkah. Ia hanyalah obsesi yang membuat kita terus berjalan. Tentang sampai atau tidaknya kita terhadap tujuan itu, maka itu terserah kepada kehendak Allah saja.
Sebab Dia-lah penentu segala-Nya, kita tidak berhak bahkan tidak pantas memaksa-Nya. Yang kita bisa hanyalah menengadahkan tangan kita kepada-Nya. berharap Dia mendengar permohonan dan do’a2 kita. Dan membuat kita sampai pada tujuannya.
Tapi Allah tak punya sifat zalim. tentu dia tidak akan menyia-nyiakan ikhtiar hamba-Nya. Insya Allah semua yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Kalau pun tujuan kita “tidak tercapai”, maka pasti Ia sudah menyiapkan skenario yang lebih besar untuk kita. Apalagi nilai ikhtiar, doa dan ketawakkalan kita demikian besarnya. Insya Allah sebuah reward besar sedang disiapkan untuk kita. Ia bisa berwujud sesuatu yang sangat kita inginkan atau pun tidak. Yang jelas dari semua itu adalah, ia pasti berwujud sebagai sesuatu “yang kita butuhkan”.
Bukankah Allah dengan ke-Maha Kuasaan-Nya, lebih mengetahui apa yang kita butuhkan untuk diri kita sendiri?
Maka mulai lah berhusnuzhzhan kepada-Nya.
Hendro Tri Rachmadi
Jakarta, 7 Mei 2009
Hari ke-11 menuju 2M
May 3, 2009
Hidup memang sepenggal kisah perjuangan. Bagaimana kita mengubah rasa sakit menjadi bahan bakar yang tak kunjung habis. Bagaimana kita mengubah “kelembaman” menjadi energi gerak positif. Bagaimana kita tetap bergerak di tengah rasa pesimis dan pesmisme…
Hari ini dan hari-hari ke depan, tidak pernah kita hadapi hari yang libur dari ujian. Ada saja cara Allah mematangkan diri kita dengan berbagai, ujian, cobaan bahkan kesalahan. Satu yang pasti adalah, jangan pernah berhenti melangkah. Sebab berhenti adalah mati! Bagaimana pun terseoknya kaki ini melangkah dengan sederet luka yang sudah terjadi dan betapa beratnya medan di depan, kita tetap harus melangkah! Harus!
Diam berarti mati!
Sebab kita sudah mati tanpa harus kehilangan nafas biologis.
Dunia ini butuh sekali para pejuang. Orang2 yang tidak menyerah dengan takdir dirinya sendiri yang terkadang terlalu dibuat melankolis. Orang-orang itu hidup dan “menghidupi” orang lain dengan energi semangat yang tiada pernah mati. Energi yang seakan bisa menyalakan seluruh isi dunia. Merekalah orang-orang terbaik. Yang hidup di atas keyakinan dan sabar dalam menjalani keyakinan tersebut.
Semoga kita termasuk di dalamnya….
Hendro Tri Rachmadi
Jakarta, 1 Mei 2005 (Hari ke-5 menuju 2M)
April 27, 2009
Bagaimana jika suatu saat handphone kita tida perlu lagi dicharge? sehingga tak diperlukan lagi waktu untuk ngec-charge? Oleh karena itu, handphone tersebut haru bisa mengkonversi panas tubuh penggunanya menjadi energi. Dan itu cukup untuk menghidupi handphone tersebut berhari-hari…
April 22, 2009
Kenapa Enterpreuner Secara Teori Lebih Kaya daripada Seorang Karyawan?
Ada beberapa landasan normatif untuk hal ini :
1. Enterpreuner/pengusaha “memperbutkan” 9 dari 10 pintu rezeki. Sementara karyawan hanya memperebutkan 1 dari 10 pintu rezeki. Dan kalau dilihat jumlah enterpreuner yang jauh lebih sedikit dari karyawan, hal ini makin membuat “jomplang” perbandingan tersebut.
2. Atasan seorang enterpreuner yang “bersih akidahnya” adalah Allah SWT langsung. Dia sadar bahwa perusahaan yang dia bangun bukan miliknya. Mungkin dia owner secara kasat mata, tetapi hakikatnya dia maksimal Cuma seorang CEO di perusahaannya. Karena semuanya adalah milik Allah SWT. Nah enterpreuner sebenernya pekerja, tetapi pekerja di perusahaan milik Allah SWT…. Penghasilan dia adalah Allah SWT yang menentukan. Dia nggak pernah bisa menentukan gaji yang “pasti”. Semua atas kehendak Allah. Makanya dia sangat yakin bahwa rezeki dari Allah SWT.
Beda dengan karyawan yang merasa “aman” dengan gaji…. Ah besok gajian kok… Ah besok masih ada gaji, dibayar besok aja. Ah besok kan gajian, nanti beli ini dan itu nya bisa direncanakan.
Kalau di dunia enterpreuner, semua “terkesan” tidak pasti…. Hari ini bisa untung, besar, besok bisa jeblok besar… Makanya enterpreuner seharusnya “sangat bergantung” pada Allah SWT dan bukan yang lainnya. Kalau karyawan masih punya “tempat bergantung” lain seperti gaji, bonus, perusahaan tempat dia bekerja, dll (yang sudah jelas, pasti dan bisa dihitung). Maka enterpreuner sejati, tempat bergantungnya hanya Allah SWT. Dia sadar bahwa dia bukan siapa2. Tidak bisa menentukan untung rugi.
Bahkan kadang usaha/ikhtiarnya yang luar biasa itu, bisa saja tak menghasilkan apa2 dan sebalikanya…
Makanya atas dasar tersebut, seharusnya keimanan enterpreuner lebih baik dari karyawan. Dan Allah juga memberi reward lebih, karena dia sangat bergantung kepada Allah SWT dan tidak kepada lainnya. Rewardnya berupa penghasilan yang lebih tinggi dari seorang karyawan.
“Sebuah harga keyakinan atas ketidakpastian”
3. Soal Gaji dan Naik pangkat. Jika karyawan gaji dan kepangkatannya ditentukan atasan, HRD atau komisi eksekutif, maka enterpreuner, gaji yang menentukan adalah Allah SWT langsung…. Karena dia “karyawan” dari sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Dzat penguasa alam ini, maka gajinya langsung dari langit… Dan karena langsung dari sumbernya, maka kemungkinan dia akan mendapatkan lebih besar. Lebih besar dari seorang karyawan…. Makanya gaji seorang “supervisor” di “perusahaan ini”, biasanya lebih besar daripada gaji seorang Vice President di perusahaan “orang”. Intinya, sejelek2nya usaha yang kita bangun, insya Allah (setelah melewati beberapa proses tentunya), akan lebih besar daripada penghasilan seorang eksekutif diperusahaan besar sekali pun (paling statusnya aja yang beda).
4. Enterpreuner adalah “perantara” rezeki dari Allah SWT kepada karyawannya. Makanya dana yang dialokasikan dari langit “biasanya” lebih besar lagi ke dia. Karena ada titipan untuk si fulan dan si fulan yang menjadi karyawannya. Makanya buat enterpreuner yang mengurangi hak2 karyawan. Siap2 dicekal dari langit langsung.
Apalagi kalau karyawan kita berkeluarga… wah tambah besar omset bersih kita insya Allah. Soalnya seluruh keluarga karyawan tersebut akan membantu mendo’akan kita. Istrinya akan berdo’a semoga rezeki suaminya di mudahkan Allah. Ibu dan Bapaknya akan berdo’a semoga rezeki anaknya di mudahkan Allah SWT. Wah do’a orang tua tuh insya Allah mustajab! Padahal ketika mereka mendo’akan anaknya atau suaminya, kita sebagai pemiliki perusahaan kena juga lah imbasnya. Apalagi kalau si anak tersebut Cuma bekerja diperusahaan kita. Kalau budget “rezeki” dari langit untuk si karyawan itu naik, insya Allah budget rezeki untuk perusahaan kita juga akan naik, bahkan mungkin naiknya lebih besar dari yang diberikan ke karyawan tersebut..
Itu 4 poin yang baru ketemu, semoga besok bisa menemukan hikmah lain…
Semoga menambah keimanan kita kepada Allah SWT
Hendro Tri Rachmadi
Jakarta, 22 April 2009
February 21, 2008
Perhatikanlah, bagaimana saat ini banyak orang-orang mengeluh dengan keluhan yang “berparadoks”. Di satu sisi mereka mengeluh tentang kehidupan mereka yang kian sulit. Namun di sisi lain mereka tidak melakukan banyak hal untuk keluar dari kesulitan tersebut.
Perhatikanlah bagaimana sebagian anak bangsa ini hidup dalam kesulitan, namun masih dengan orang-orang yang sama, mereka terlalu banyak menghibur diri. Persentase waktu yang mereka habiskan untuk bekerja masih lebih sedikit dibandingkan waktu yang mereka gunakan untuk menghibur diri.
Itulah mengapa, stasiun-stasiun televisi menangguk untung berlipat. Karena mereka “menghidangkan” begitu banyak acara hiburan dan sedikit sekali acara yang membuat penontonnya “bekerja”.
Perhatikanlah betapa banyak orang yang membuang waktunya dalam kesia-siaan. Padahal sebuah mimpi, cita-cita, harapan, dan keinginan harus diperoleh dengan kerja keras. TIDAK ADA YANG GRATIS DALAM KEHIDUPAN INI. Dan mungkin begitulah slogan yang tepat untuk membangunkan bangsa yang tertidur lelap.
Anda malas, maka bersiaplah menderita akibat kemalasan anda. Anda bekerja keras, maka Insya Allah, Rahmat Allah SWT bersama anda selama anda ikhlas bekerja dan melakukannya sesuai ketentuan Allah SWT.
Bangsa ini harus bangkit dari kelemahannya. Harus! Dan harus mereka sendiri yang melakukannya. Oleh karena itu, mulailah mematikan televisi manakala yang ditampilkan adalah sinetron yang menggambarkan mimpi-mimpi semu. Mimpi-mimpi yang terlalu ideal tapi seperti sulit dijangkau. Tentang anak manusia yang cantik-cantik dan tampan-tampan, hidup sudah dalam keadaan kaya dan sukses secara materi tapi tidak terlihat unsur perjuangan dalam mendapatkannya. Dan “kerjaan” mereka cuma bicara “cinta” yang sebenarnya cuma “nafsu” sesaat.
Mari selamatkan bangsa ini dengan mulai membuatnya bekerja mewujudkan mimpi. Saat ini keadaan seperti tak mendukung. Lihatlah sepanjang jalan yang anda lewati, mana yang lebih banyak, orang yang duduk-duduk, bercengkerama, santai, diam tak melakukan kegiatan produktif, atau mereka yang sedang bekerja keras mewujudkan mimpi?
Kita harus menyadarkan semua orang bahwa mereka harus bekerja, berkeringat, menguras semua potensi yang ada pada otak dan jasad mereka. Berlelah-lelah dalam konsentrasi dan aktivitas fisik. Semua demi mimpi-mimpi kebahagiaan yang sedang kita bangun.
Jangan ada lagi penganggur-penganggur di bangsa ini. Sebab penganggur bukanlah orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Penganggur adalah mereka yang tidak bekerja. Perhatikanlah, betapa antara orang yang memiliki pekerjaan tetap dengan orang yang bekerja bisa sangat berbeda 180 derajat!.
Dan mari mulai dengan diri kita yang membaca tulisan ini. Evaluasilah diri kita. Mana di antara 24 jam ini yang kita habiskan dalam kesia-siaan. Mana waktu-waktu yang produktif. Setelah itu perbaikilah! Dan jadilah lebih produktif!
Pada bagian akhir, jadilah kita bagian dari solusi atas permasalahan bangsa ini. Dan bukannya justru menjadi masalah bangsa ini.
Jadilah kita problem solver bagi bangsa ini. Dan bukannya sekedar menjadi problem speaker yang pada akhirnya hanya menjadi trouble maker bagi bangsa ini, sebagaimana pernah disebutkan seorang ulama shalih, almarhum Ustadz Rahmat Abdullah (semoga Allah meridhai beliau).
Jadi, selesai membaca tulisan ini. Mulailah mengerjakan pekerjaan produktif yang bisa kita lakukan. Dan jangan berhenti sebelum lelah, ada hal lain yang lebih penting atau saat Allah SWT menjemput kita dalam kematian yang diridhai-Nya. Amiiin.